Jika langit diatasmu masih didominasi warna biru, maka langit disini pun berwarna biru. Jika awan-awan itu masih putih menyapamu, maka disini awan juga berwarna putih. Langit itu masih sama bahkan sari 1986. masih mempunyai keakraban dan rasanya kehangatan siangnya tak banyak berubah selain lebih menyangat sedikit, sedikit saja. Semuanya masih sama ketika bangunan-bangunan mulai menyempitkan bulir-bulir padi yang tumbuh. Pun dengan sebuah rumah mungil ini,pekerjaan belum usai ketika bagia belakang rumah ini mulai di tanam pondasinya, hingga menjadi ruangan yang menyenangkan, ruangan penuh dengan canda, penuh dengan emosi, penuh dengan tangis, penuh dengan amarah, penuh dengan syukur, sabar. Ruangan yang memberikan asa untuk tetap bermimpi karena ruangan ini belum jadi, ruangan dimana untuk pertama kalinya kepala kelauarga ini menangis karena putranya masuk ke padepokan terkenal di kaki merapi. Ruangan ini masih ada bahkan hingga sang kepala keluarga telah tiada
Langit masih berwarna biru di tegalsari, ketika aku tiba-tiba menyeruak senja melepaskan penat dan keangkuhan Yogyakarta. Semuanya masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah. Ruangan itu masih berdiri kokoh mengiringi malam-malam anak-anak itu dengan lelap, mengiringi sahur dan buka di 1429 ini. Mengajari mereka tentang arti bacaan shalat, memberi tawa dengan kotak penuh pesona yang berchannel-channel, ruangan itu yang membersihkan diri mereka, yang memberi keteduhan dalam setiap aktivitas, dan sore ini kupandangi langit dan langit masih berwarna biru di tegalsari
Semua masih sama bahkan ketika adzan perkasa menyahut di 29hari ini. Ketika aku melepas rindu dengan sambal dan tempe goreng, langit bahkan masih menyisakan warna birunya dan si saga mulai menyapa indah. Semua masih sama hari ini, namun ruangan ini sebentar lagi bukan lagi menjadi milik kami. Ruangan ini akan meninggalkan kami, ruangan ini akan memisahkan kami dan ruangan ini entah akan menjadi milik siapa. Tapi sebuah keheingan khabar telah memberitahuku bahwa ruangan ini akan berpisah dari kami. Aku diam saja karena aku hanya mampu diam waktu itu, biar, biarlah semuanya terjadi jika ini adalah ketentuanMu. Sesosok perkasa itu sudah terlalu bertubi-tubi menanggung semuanya semenjak kepergiannya, sesosok itu kini harus kembali kehilangan ruangan yang susah payah dibangun bersama kekasihnya, ruangan itu harus rela mereka lepas, sunyi dan hening
Maka aku keluar dan mencoba memandangi langit, semuanya masih sama dan tiada berubah, langit maghrib begitu indah, masih indah. Dan inilah aku, seorang yang akan selalu mengeluh dan mengeluh, jika aku harus kehilangan ruangan itu maka ambillah, jika kami harus merelakannya maka relakan, sebuah peajaran besar hari ini dan akan selalu kuingat, Kupandangi lekat-lekat setiap sudut ruangan ini tanpa terlewat, dan sekelebat bayangan masa lampau kuat menghegemoni otakku, aku tertawa luar biasa, dan disaat bersamaan aku menangis
Maka benarlah bahwa hijrah itu berat, berat meninggalkan tanah kelahiran, namun disitulah ujian keyakinan. Maka aku ta kuasa untuk berusaha mengerti semua ini, maka aku bertanya pada seseorang, ajari aku makna hijrah, ajari aku tentang ikhlas? Dengan indah dia menjawab, maka bukalah hadist arba’in ke 1, 19, 24.