Posted by: dearsany | December 15, 2008

DI/TII

baru dapat riwayat awal, walau dulu-dulunya pernah denger. tentang seorang bernama anwar, tentang seseorang yang mendarah daging kuat kepada bapak. Anwar kakekku. sebuah fakta sejarah mengatakan bahwa beliau adalah pejuang DI/TII (manteb ga tuh). Dan di buku keluarga yang super duper tebel itu, kalo ada anggota yang udah meninggal ya ditulis meninggal, tapi engga bua simbahku ini, tertulis “missing in action” wew mantab bener yakz. emang sampe sekaang jenazahnya belom di temuin, setelah bergerilya dengan DI/TII. kabar burung mengatakan sampai ke indramayu dan syahid disana. Wah wah wah…manteb kali. sayang seribu sayang, bapak pun belum sempat melihat wajah si eyang ini, karena keburu jihad (maaf pemerintah, ane bener-bener mengartikan DI/TII ini jihad).

Tak apalah, ini romantisme sejarah. Bukan untuk gedhe-gedhe bukan, tapi ditengah sangat mlempemnya semangat memerjuangkan risalahini di keluarga besar (untuk tidak mengatakan semuanya), cerita tadi kadang membangkitkan semangat gue (halah) untuk go fight la memperjuangkan ustadziatul ‘alam eh ati khilafah ? hehe au ah, yang penting mah tetep semangat, kakek lo aja me syahid masak bulletin ga terbit-terbit lo nangis muf muf, kesian amat

Hidup DI /TII lah

anak gue mau tak kasi nama anwar hehe siaaaap !!

Posted by: dearsany | December 13, 2008

aku menikah !!!

kemaren temen yang berinisial R-E-Z-A anak psikologi sebuah universitas negeri di jogja selain UNY dan UIN nanya dengan gaya khasnya (ini perlu dipatenkan za). “dikau sedang merencanakan sesuatu yang besar ? bole berbagi ?” mungkin begitu sms yang tiba-tiba nyelonong. pikir saya, reza bangeeeetzz…mulai berfikir dan kayaknya ga ada deh pekerjaan besar (mungkin bagiku beda redaksional saja, kau tau kan reza standarnya seperti apa). yah akhirnya dipaksa mikir juga, apa ya pekerjaan besar saya ? padahal kadang diajai untuk mempunyai visi idup, diturunkan rigid visinya dengan derajad waktu serta target2 yang sangat strategis , (gitu ga za?)….tuing tuing….akhirnya mikir mikir, walo jawab sms reza sekenanya, ngidupin keluarga la (ibu ma adek2 maksudnya), amanahnya mak nyuss lah, lulus 2009 lah. hehe za ntu juga jawaban sekenanya…terus mikir dan mikir kira-kira apa ya pekerjaan besarku ? wah….mikir lagi….mikir lagi eh pas ga mikir si calon psikolog ini sms lagi, “kapan menikah ? mau punya anaka berapa ?” begitu sms dengan beberapa editan, wah klo menikah mah ada targetan, ta jawab “25. jumlah anak belum confirm” itu juga jawaban asal karena lagi konsen buang-buang bulletin sore-sore. masih mikir kira-kira apa pekerjaan besarku

dan AHA !!! akhirnya di warung burjo hot spot seturan samping UPN ini aku menemukan pekerjaan besarku, yeah finnally…MENIKAH MAKSIMAL UMUR 25 !!!!!!

mantab kali pekerjaan besarku

buat yang nikahan bulan desember ini, tega amat nikahan barengan minimal 5 undangan di tangan (untung belum ada budaya nyumbang kayak bapak-bapak, bisa stress ane)

Posted by: dearsany | November 4, 2008

knapa ?

kenapa postingan “bukan” banyak comment ? karena ia membicarakan yang comment, membicarakan mereka, dulu dan sekarang. protes, bingung, mencoba memahami, mengerutkan dahi, agak tersinggung, senyum-senyum dan geleng-geleng kepala, kira-kira adalah reaksi mereka. ane tidak akan menanggapi, inilah tafsirku dan aku biarkan dengan tafsir kalian

reaksi yang baca blog ini mulai muak dengan tulisan-tulisan sok menderita, sok sendirian, sok nyastra, sok flamboyan, dan sekali lagi ijinkan ia seperti itu, karena rumah satunya untuk menampung sampah-sampahku dengan rusak, (bacalah not seriousku) jadi dearsany yang semula semuanya “menyenangkan kan ? minimal terasa menyenangkan” menjadi “semua mengerikan kan ? minimal terasa mengerikan”

tapi akan datang yang menyenangkan tunggu saja…

Posted by: dearsany | October 30, 2008

hebat

Hebat. Orang-orang ini hebat. Mereka adalah punggawa kerajaan ini kedepannya. Anak-anak muda ini tentu saja menyimpan cita-cita besar dalam upaya perbaikan sistem yang mereka anut. Logika-logika spiritual menyesaki setiap inchi pemikiran mereka, dan mereka hebat. Aku semakin tenggelam saja di tengah lautan ikhlas, kesungguhan dan kapabilitas yang sekali lagi mumpuni.Mereka adalah garda depan pengetahuan karena di padepokan-padepokan universitas mereka tersebar dan mereka adalah tanggung jawab moralitas spiritual karena mereka sadar betul tugas yang mereka percayai itu turunan dari tuhan : menyeru.

Maka di tengah-tengah mereka aku menyaksikan sebuah perpaduan yang indah antar kesejukan iman dengan meluapnya rasionalitas pengetahuan. Rasanya bangsa ini hanya tinggal menunggu untuk diambil alih Untuk segera diselamatkan dari apatisme akut, dari perasaan keterpurukan yang lebih istiqomah dibanding mimpi-mimpi perbaikan mereka. Duhai, mereka muncul dan aku tenggelam

Perbaikan adalah harga mati. Menuju ke kurva puncak adalah pilihan tunggal, dan kekuatan yang menggelorakan adalah penjaga ritmenya. Dia tak bole terlalu semangat pada suatu saat atau dia tak boleh terlampau liliput di waktu yang lain. Dinamika adalah pasti dan sikap untuk berani adalah pilihan. Maka jika dari hari ke hari judge keburukan selalu aku tempelkan pada jidat bodohku, bukankah aku berhak berharap, minimal sedikit bahwa aku akan menjadi lebih baik, suatu saat

For bombay, thanks telah menyeretku masuk ke kumpulan 12 oktober di UPN

Posted by: dearsany | October 23, 2008

not serious

Not serious, really !!!

Kenapa dearsany ? ini fikiran cekakku. Aku ingin mempunyai 2 blog yang update dengan 2 karakter yang berbeda. Aku ingin membuat tulisan kontemplatif, seperti yang kalian baca akhir-akhir ini diblog ini. Tulisan singkat yang bisa mengekspresikan seluruk konteks kemanusiaan seorang hafidz. Dalam tulisan ini aku berkiblat persis dengan tulisan anis matta. Aku menemukan karakter tulisan yang hampir sama pada salim A fillah di saksikan aku seorang muslim, dan tulisan guru kami, miftahul huda di kolom boulevard JS. Ini yang ada di otakku dan harus kukeluaran, dengan diksi yang bagi sebagian orang akan sangat tidak faham, tapi bagiku diksi itu yang paling kuat mewakili aspek kejiwaanku. Dan seharusnya blog yang menampung tulisan-tulisan ku seperti ini ada di www.muftisany.web.ugm.ac.id, namun apa daya, keinginan untuk merombaknya dengan CMS lain tidak kesampaian dengan niat yang sungguh-sungguh. Akhirnya blog itu terbengkalai minimal hingga sekarang

Lalu blog kedua yang ingin aku cipta adalah tentang keseharianku, semacam diary dalam bahasa kalian. Dengan bahasa yang bagiku lucu, renyah dan mengalir. Inilah hafidz dalam dunia sebenarnya, gambaran bahasa adalah gambaran karakter dan disinilah bentuk hafidz yang tanpa bentukitu menyapa, makanya aku beri nama dearsany. Kau tahu maksudku kan ? semacam sapaan dear diary !!!! (huekzzz)

Namun karena kebodohanku dalam mengedit CMS dan tentu saja kemalasan, si dearsan tiba-tba berubah menjadi sangat mufti. Ada yang bilang sampai berapa nama yang aku bikin ? setiap nama mewakili karakternya masing-masing. MAka kau akan kaget menemui si dearsany dalam tulisannya akhir-akhir ini. Yah satu kesimpulan, menulis diary dalam keseharian lebih berat daripada menulis kontemplatif kecuali kau seorang wanita (loh..)

Enjoy it

Posted by: dearsany | October 21, 2008

bukan

Bukan, bukan karena mereka sudah tak punya komunitas lalu mereka berkumpul dengan berbagai cara dengan komunitas mereka yang baru. Bukan, bukan karena pekerjaan besar merka dipadepokan ini telah usai lantas mereka mulai mengharu biru dengan kawan 2 bulan hidup bersama mereka. Berbagai cara mereka tampuh untuk tetap bisa mengucapkan hai, atau sekedar mencari teman ke toko buku, atau pengisi menghabiskan kelebihan beban di short message service mereka. Seperti tiba-tba mereka terlepas dengan komunitas sebelumnya dan selalu saja komunitas 2 bulan ini yang menjadi keseharian mereka

Seperti hari ini, disaat 30 hari lampau, aku diminta datang ke agenda mereka, aku buru-buru meminta izin. Berani sekali aku izin padahal agenda masih sebulan dan aku tak tau apa aku memiliki kepentingan lain hari itu. Namun tuhan berencana lain, tiba-tiba aku yang harus menerima mereka di tanggal itu, di acara itu. Aku tak bisa berkutik, toh hanya sekedar ditempati. Maka aku menyiapakan seluruh memory yang kuingat 2 bulan bersama mereka dan sudah mulai kulupakan

Di akhir agenda 2 bualn itu, aku menemukan kenyataan bahwa aku bukan bagian dari mereka. Disamping aku tiba-tiba disambut rutinitas lama setelah itu ditambah banyak rutinitas lain yang menyapa, maka aku mengesampingkan mereka. Padahal dengan segala upaya mereka lakukan untuk tetap menjalin hubungan itu, dan aku ? aku bertekad memposisikan ebagai penonton, bagaimanapun ak pernah menjadi bagian dari mereka.

Maka selamat datang di tengah ketidaknyamanku, selamat datang di saksi kesendirianku, selamat datang di tempat aku melepas lelah, bukan memikirkan tentang kalian, tapi tentang yang lain. Dan ijinkan ini menjadi yang terakhir aku menjadi seseorang yang mempersiapkan, lain kali aku akan berdiri di pinggir, bertepuk tangan dan tersenyum melihat tingkah polah kalian

Selamat datang KKN 94 di rumahku dan selamat tinggal

Posted by: dearsany | October 18, 2008

tegalsari #2

Aku terpisah dari diriku. Secara otomatispun aku terpisah dari komunitas di sekitarku. Sejak 16 aku sudah meninggalkan ranah-ranah tetanggaku dan hanya muncul sesekali dalam 7 hari. Hingga detik inipun aku mulai kehilangan eksistensi siapa diriku di sini, di tegalsari, rumah dimana aku dilahirkan. Aku sudah mulai lupa lafadz-lafadz al barjanji yang dilantunkan tiap malam ahad. Aku mulai bingung merasakan tarawih 23, aku lupa akan urutan tahlil, bahkan aku tak ingat lagi surah yassin yang dulu dengan fasih kuhafal buah tiap kamis aku wajib membacanya.

Bahkan aku tak hafal nama-nama tetanggaku, nama-nama anak-anak kecilnya, nama para ibu dan apa saja kegiatan disana. Tegalsari adalah identitas kebanggaanku dulu, Tegalsari adalah eksistensi, Tegalsari adalah asal dan seluruh rangkaian kebudayaan yang membangun pola pikirku. Aku melupakan asalku dan terpisah dan mulai mempertanyakan semua bentuk kebudayaan yang aku temui di sini, di rumahku

Aku bebas nilai sejak aku belajar mandiri untuk tidak mengatakan lari dari kebudayaan tegalsari. Aku semakin bebas nilai ketika ayah telah tiada. Aku mulai bebas nilai sejak itu dan aku mulai merekronstuksi sendiri kebudayaanku. Betapa aku semakin tidak nyaman dengan rumahku dan idealismeku adalah aku akan membangun peradaban tidak disini, tidak di tegalsari

Tapi, setiap yang kuingat akan membangkitkan setiap inchi dari kebaikan yang telah diberikan tegalsari kepadaku. Jika sekarang seluruh keburukan terkumpul kepadaku karena kontaminasi tanpa ampun dari jogjakarta, tegalsari berusaha keras untuk mengingatkanku pada nilai-nilainya, pada setiap kebaikan-kebaikan yang mendidikku menjadi seorang hafidz muftisany

Aku merindukannya mendidikku menjadi baik kembali, semoga

Posted by: dearsany | October 8, 2008

tegalsari #1

Jika langit diatasmu masih didominasi warna biru, maka langit disini pun berwarna biru. Jika awan-awan itu masih putih menyapamu, maka disini awan juga berwarna putih. Langit itu masih sama bahkan sari 1986. masih mempunyai keakraban dan rasanya kehangatan siangnya tak banyak berubah selain lebih menyangat sedikit, sedikit saja. Semuanya masih sama ketika bangunan-bangunan mulai menyempitkan bulir-bulir padi yang tumbuh. Pun dengan sebuah rumah mungil ini,pekerjaan belum usai ketika bagia belakang rumah ini mulai di tanam pondasinya, hingga menjadi ruangan yang menyenangkan, ruangan penuh dengan canda, penuh dengan emosi, penuh dengan tangis, penuh dengan amarah, penuh dengan syukur, sabar. Ruangan yang memberikan asa untuk tetap bermimpi karena ruangan ini belum jadi, ruangan dimana untuk pertama kalinya kepala kelauarga ini menangis karena putranya masuk ke padepokan terkenal di kaki merapi. Ruangan ini masih ada bahkan hingga sang kepala keluarga telah tiada

Langit masih berwarna biru di tegalsari, ketika aku tiba-tiba menyeruak senja melepaskan penat dan keangkuhan Yogyakarta. Semuanya masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah. Ruangan itu masih berdiri kokoh mengiringi malam-malam anak-anak itu dengan lelap, mengiringi sahur dan buka di 1429 ini. Mengajari mereka tentang arti bacaan shalat, memberi tawa dengan kotak penuh pesona yang berchannel-channel, ruangan itu yang membersihkan diri mereka, yang memberi keteduhan dalam setiap aktivitas, dan sore ini kupandangi langit dan langit masih berwarna biru di tegalsari

Semua masih sama bahkan ketika adzan perkasa menyahut di 29hari ini. Ketika aku melepas rindu dengan sambal dan tempe goreng, langit bahkan masih menyisakan warna birunya dan si saga mulai menyapa indah. Semua masih sama hari ini, namun ruangan ini sebentar lagi bukan lagi menjadi milik kami. Ruangan ini akan meninggalkan kami, ruangan ini akan memisahkan kami dan ruangan ini entah akan menjadi milik siapa. Tapi sebuah keheingan khabar telah memberitahuku bahwa ruangan ini akan berpisah dari kami. Aku diam saja karena aku hanya mampu diam waktu itu, biar, biarlah semuanya terjadi jika ini adalah ketentuanMu. Sesosok perkasa itu sudah terlalu bertubi-tubi menanggung semuanya semenjak kepergiannya, sesosok itu kini harus kembali kehilangan ruangan yang susah payah dibangun bersama kekasihnya, ruangan itu harus rela mereka lepas, sunyi dan hening

Maka aku keluar dan mencoba memandangi langit, semuanya masih sama dan tiada berubah, langit maghrib begitu indah, masih indah. Dan inilah aku, seorang yang akan selalu mengeluh dan mengeluh, jika aku harus kehilangan ruangan itu maka ambillah, jika kami harus merelakannya maka relakan, sebuah peajaran besar hari ini dan akan selalu kuingat, Kupandangi lekat-lekat setiap sudut ruangan ini tanpa terlewat, dan sekelebat bayangan masa lampau kuat menghegemoni otakku, aku tertawa luar biasa, dan disaat bersamaan aku menangis

Maka benarlah bahwa hijrah itu berat, berat meninggalkan tanah kelahiran, namun disitulah ujian keyakinan. Maka aku ta kuasa untuk berusaha mengerti semua ini, maka aku bertanya pada seseorang, ajari aku makna hijrah, ajari aku tentang ikhlas? Dengan indah dia menjawab, maka bukalah hadist arba’in ke 1, 19, 24.

Posted by: dearsany | October 6, 2008

Jalani Saja

Jalani saja hidup. Apa ada yang salah dengan konsep hidup ini ? konteks jalani saja dalam hal usaha bukan berarti anpa perencanaan, bukan tanpa tujuan yang pasti, tapi kadang jalani saja hidup ini untuk memberikan motivasi bagi kita bahwa tidak perlu pusng-pusing menghadapi permasalahan hidup. Masalah itu pasti, tinggal penyikapan kita bagaimana. Kadang dengan memberikan stimulan jalani saja hidup ini, kita mempunyai set mental yang baik, santai dalam menghadapi setiap permasalahan

Memang ada prioritas permasalahan, yang membutuhkan keseriusan betul-betul untuk diselesaikan, namun adakalanya perasaan santai bisa membantu kita mengkonstruksi pikiran-pikran yang berserak untuk dikumpulkan guna menghadapi permasalahan yang lebih besar. Jalani saja hidup ini

Dramatisasi masalah adalah sesuatu yang sering kita lakukan dalam keseharian, seolah kita ingin menunjukkan bahwa kitalah orang yang paling menderita di dunia, kitalah yang paling prihatin dan kutalah yang penuh perjuangan untuk keluar dari permasalahan. Kita tidak perlu melakukan hal ini jika kita mengerti betul kadar kemampuan kita sampai dimana, sehingga setiap masalah akan kita hadapi secara proporsional. Dan konsep jalani saja adalah konsep orang-orang yang mengerti betul bagaimana solusi atas setiap permasalahan

Jalani saja hidup ini harus kita taruh di proses, bukan di awal dan bukan di akhir. I awal kita menentukan tujuan, priportas dan obsesi, ini harus ideologis, dan di akhir adalah pembuktian, seleksi siapa yang bertahan siapa yang tidak dan ini juga membutuhkan keseriusan. Namun sesngguhnya semuanya terlalu berat di tengah, di proses. Dan masing-masing dari kita punya cara dan metode tersendiri untuk menjalani proses, dan aku kawan, sedang mau mencoba konsep ini, jalan saja hidup

Posted by: dearsany | October 2, 2008

….

sambil mengisi kekosongan, karena ga mau kirim sms ber aroma idul fitri, disini aja dah

Untuk Semua yang aku kenal maupun tidak, adalah para sahabat ketika hari raya berucap “Taqqabalallahu minna wa minkum”

maka ijinkan aku mengucapkan

“Taqabalallahu minna wa minkum”

Semoga ibadah ramadhan kita dalam ridho-Nya

ttd

keluarganya hafidz

« Newer Posts - Older Posts »

Categories