Pemakluman datang dari kebiasaan. Beruntun dia mencerminkan atas sikap konsistensi kita terhadap sesuatu. Awalnya dia akan sulit dipahami, mencoba berbeda dari kebiasaan. Dan kadang justifikasi awal bisa meruntuhkan eksistensi seseorang karenanya. Namun bagi orang-orang yang mengamati dengan sabar maka akan muncul sikap ini, pemakluman. 2 hal, sifat baik dan buruk bisa saja memakai sifat ini dalam ujung penyikapaannya. Jika engkau misalnya, terlalu sering untuk melalaikan tugas dan itu semacam ketidaksadaran engkau melakukannya, maka orang lain yang sabar tentu saja, akan menarik sikap pemakluman. Semacam sikap pembelaan atas ketidakoptimalan kita. Ini sisi buruk. Atau ketika kau melakukan kebaikan dan memang begitulah sifatmu hingga kau dianggap terlalu baik, maka semua akan juga mengambil sikap ini pemakluman. Oh, manusia ini memang ditakdirkan menjadi baik dengan segala sifat yang menyertainya.
Semua tradisi yang ktia bangun dengan perjuangan (menurut bahasamu) atau biasa saja (menurut bahasaku) tentu akan membuat sebuah prototype bagaimana sendi kehidupan kita. Dan wajah kedewasaan kita akan tampk disini. Inilah watak dan dia mengalami sebuah proses yang panjang dalam hidupmu. Klaim atas siapa sebenarnya dirimu bisa kau dapatkan dari sikap orang akan sebuah karakter yang kau tampakkan. Ini jika kau tidak bisa menilai bagaimana sebenarnya dirimu dan kau mempercayai orang lain. Dan dengan yakin sekali inilah wajah dari karakterku dan akhirnya berujung pada sebuah sikap besar dari orang-orang disekelilingku, sebuah pemakluman. Kau tafsirkan sendiri eh kau maklumi sendiri aku jenis pemakluman yang mana
Hahaha, tiba-tiba saja aku menyepakati tentang sebuah sikap besar orang-orang yang akan menghadapiku, jika teknologi sudah berusaha keras menciptakan sistem early warning terhadap apapun, maka konsensus manusia-manusia ini juga menyiapkan semacam early warning padaku. “butuh stok kesabaran yang berlebih untuk menghadapi seorang hafidz muftisany !!!” hahahaha, stok kesabaran yang lebih adalah sikap pemakluman, menghadapi adalah pilihan yang terpaksa diambil seseorang , seorang hafidz muftisany adalah tertuduh. Aku mengiyakannya, bahwa memang sikap itulah yang harus dibawa jauh-jauh justru sebelum bertemu denganku. Bawalah ia dengan erat bahkan asahlah dengan tajam stok kesabaran kalian sebelum bertemu denganku, ah celaka jika kalian ternyata sudah bertemu denganku dan lebih menderita lagi jika akan banyak project dan berinteraksi denganku, tapi minimal bersyukurlah karena kamu bisa berlatih sabar dengan kadar ekstra, teramat ekstra.
Tapi apapun kata kalian, aku bahkan tak tahu sikapku yang mana yang berujung pada sikap pemakluman kalian, aku tak butuh dinasehati dan bahkan kalian sudah tau itu aku tak akan mempan dinasehati, dan ini pemakluman yang lain.Tuhan maafkan aku, aku harus menggunakan angka ini.23 ,adalah keterlambatan akut untuk berubah. Setiap orang mengharapkan perubahan kan, dan termasuk aku sekalipun. Dan inilah episode dalam hidup, yang akhirnya semua akan berujung pada sebuah sikap dasar sebagai manusia, sabar dan syukur
Oh untungnya aku masih punya Yang Maha Penyabar….
wuaahm. pasca 1 pekan mempersiapkan pertemuan dengan pak Baran, 2 hari survey lapangan, dan satu malam menginap di tempat teman yang terlihat hanya hijau sawah, air buthek oleh limbah, dan tawa-tawa manusia yang mulai menjadi aneh di telingaku, mungkin karena terlalu lelah mendengarkan pendapat orang lain. yach yang membuat semakin rusuh saja jiwa ini. terserah juga denganmu Sany, apakah kamu mau berubah atau tidak. ini pilihan dan pilihan akan dihadapkan pada Yang Maha Penyabar itu sendiri-sendiri. sendiri-sendiri. tiada ada siapapun. bahkan aku mulai menganggap bahwa dunia ini sepi sekali. teringat puisi temanku
’seribu keranda sepanjang tahun meluncur
dari gang-gang perkampungan puisi yang sunyi
mengusung mayat-mayat yang terpanggang
dengan kedua tangan buntung
hangus terbakar oleh matahari yang disulutnya sendiri”
Andi Magedon, penyair perbatasan, 19 januari 2009 pukul 01.00 WIB
yach… 23 semakin tua kita, semakin aneh. seperti dibekukan oleh nasib dilemari es hidup kita yang dingin….. zzzz
By: umar on January 21, 2009
at 1:50 am
ya Robbi… ada titik merah yang sebenarnya ada tersembunyi dalam tulisan ini. tapi seorang hafidz kekeh untuk menyembunyikannya. heran deh, kenapa sih nggak show up aja. Umar aja bisa kok, kenpa kamu nggak?! atau kamu nggak mau?
ah, mungkin kau pun akan mengatakan ” aku tidak butuh dinasehati”. yah.. tapi.. tapi… hanya tapi. nggak ada kelanjutannya. Hoalah… ckckck…
no reason with our mistakes. and time will be running out and will be kill us.
By: attien on January 22, 2009
at 12:38 am
Wah, mas sany tambah menarik aja nih buat diinquiery..^_^
Saya berpikir malah sebenarnya mas sany bukan sedang menceritakan dirinya. Tapi ia sedang menggugah sebuah keabnormalan dari sistem berpikir yg maybe “kurang pas” bagi dia. Wuih, kok saya malah merasa jadi yang tertuduh sekarang ya..? Meskipun mas sany mgklaim ga butuh and ga mempan dinasehati, toh itu cuma sebatas topeng. Apa yang ada justru sebaliknya, ia adalah orang yang sangat loyal dengan nasehat. Kalau ga butuh dan ga mempan dinasehati, kenapa bisa sampai jadi murobbi segala. Husnudzon aja, ga mungkin kan pribadi dai sekualitas Hafidz Muftisany mau jadi murobbi hanya karena “diperintah” atau cuma mengisi kekosongan…!? Wallahu’alam ding. Maybe itu bukti kalau mas sany juga bisa butuh dan mempan dengan nasihat.
Kalo ga bener, mohon koreksinya…
Oya, satu lagi. Abnormalitas itu tumbuh karena kita sering berpikir ada yang tidak beres dalam diri kita. So…
By: Echa on January 22, 2009
at 3:53 am
ho… wah, saya ndak faham dengan itu. mas Eca someday boleh ya konsultasi. karena saya pun menemukan banyak keabnormalan dalam diri saya sendiri. hua…
By: attien on January 22, 2009
at 11:49 pm
jadi merasa aneh dengan pendapat mu Mbak Echa (ke ke ke ke sori Za), halo fidz gimana kabar antum hari ini…. ane sedang benar-benar bebas nich… ga ada pikiran macam macam. kemarin habis ketemu muridnya Profesor Boyd. Profesor bilang:
“sesuatu itu lebih mudah dilakukan daripada di pikirkan ” makanya entah kenapa pikiran ane jadi terbuka gini. dan lebih memilih untuk jujur pada saat apapun kecuali ketika sama Intel
(he he he intel salah ngikutin ane sampai tiga kali… terakhir pake pakean preman sampe rumah, barusan pas makan mie ayam omongan ane n temen-temen aktivis direkam… konyolnya mike untuk ngerekam keluar dari baju jadi ketahuan kita-kita.. ha ha ha jadilah obrolan kacau yang biasanya….. pergi dah dia….)
By: umar on January 23, 2009
at 4:19 am
aslm.. apa kabar smua? miu? omar? m’ echa? dan berbagai kepanjangan nama dari seorang hafidz muftisany…
haahhhh… baru beberapa hari sudah banyak perubahan dalam blog2 kalian… rasanya smakin tertinggal saja, sepertinya aku harus berlari lebih kencang lagi…
pid.. pid.. sebuah training kesabaran yang mungkin tak disadari, mungkin itu slhsatu kelebihan antum ketika berdekatan dengan orang lain. setidaknya smoga jadi amal baik antum…
kayaknya baru kemarin baca tulisan antum tentang 22 di the Brother [blog yang entah menghilang kmana?] dan seingat saya tulisannya ga jauh beda! lagi2 ga peduli antum ‘ngerasa’ butuh nasehat/ ga tapi… ga ada kata terlambat untuk berubah, tapi knapa harus berubah jadi orang lain? mending jd seorang hafidz muftisany dengan segala ke’dia’annya. Antum insyaAllah bisa sukses dengan cara antum sendiri…
tt stok kesabaran… bukti tak sadar, antum ternyata ingat kata2 itu, mungkin tak sadar jg antum ‘peduli’ dengan ocehan mereka…
lagi2 ‘pemakluman’… jd ingat bbrp hari lalu…
lets move moef…
By: ir on January 23, 2009
at 5:22 am
weleh…baru kemarin mimpin sidang JS. dan untuk pertama kalinya kembali ke dunia “intelektual”. akhirnya pura-pura sok intelektual. Dan kayaknya kalian dengan commentnya juga sedang pura-pura jadi intelektual hahaha (damai!! sejahtera !!)
all of u yang kalian liat di KKN, yang kalian amatin dimanapun ketika bertemu saya itulah saya sebnarnya. saya bngung dengan tafsir kalian atas saya (sebegitunya hehe). pokoknya gini saja, klo ketemu saya langsung nah itu hafidz muftisany, klo di blog gini, di chat, sms, surat apalagi radio itu “pura-pura” hafidz muftisany. sudahlah sepakat saja.
aku masih hidup mar….kelebihan duit malah hahaha
By: moef on January 23, 2009
at 10:22 am
ah pid.. pid… ya dirimu yang sebenernya ya yang itu… hafidz muftisani… aih… emang yang mana? heu..heu… pid.. pid..
By: ir on January 27, 2009
at 5:16 am
edit hafidz muftisany… afwan… ckckck..
By: smartsholeha on January 27, 2009
at 5:20 am